Wajah Putriku Asimetris Terkena Bell’s Palsy

Sebelumnya saya tidak pernah tahu atau mendengar soal penyakit Bell’s Palsy atau gangguan saraf ke-7 yang mengakibatkan wajah penderitanya miring atau asimetris seperti orang yang terkena stroke sampai anak sendiri mengalaminya.

Hari Kamis siang itu, Micky (9 tahun) pulang dari rumah neneknya yang terletak tidak jauh di seberang jalan dan mengeluh katanya matanya perih sebelah, berasa menonjol keluar dan bibir matanya tebal. Saya pun memberinya obat tetes mata untuk meredakan perihnya. Tapi gak lama kemudian pada saat saya di kamar mandi, Micky berteriak-teriak memanggil. Saat ditanya ada apa? dia menunjukkan bibirnya yang tidak simetris pada saat tersenyum.

Awalnya saya pikir mungkin karena kebiasaan mengunyah makanan hanya di sebelah kanan saja sehingga wajahnya menjadi tidak simetris. Tapi sore harinya, saya perhatikan ke-tidak simetris-annya semakin jelas terlihat dan mata sebelah kirinya terus menerus meneteskan air mata dan tidak bisa menutup dengan baik seperti mata kanannya. Deg! saya kaget karena ternyata wajahnya yang sebelah kiri termasuk kelopak mata, cuping hidung, dan bibirnya tidak bereaksi sehingga kalau tersenyum atau tertawa terlihat seperti menyeringai.

Kelihatannya seperti wajah orang yang terkena stroke. Tapi tidak mungkin Micky kena stroke, stroke kan penyakit ‘orang dewasa’? Saya segera menelpon suami, suami nyaranin nelpon ahli pengobatan herbal yang dulu mengobati almarhum bapak mertua pada saat terkena stroke dan sembuh dengan pengobatannya.

Pak Oman, ahli pengobatan herbal itu datang ke rumah, memeriksa Micky dan kemudian mengatakan ada gangguan di urat saraf belakang telinga yang penyebabnya karena angin. Beliau menotok beberapa titik di pundak Micky, tapi Micky gak kuat sakitnya sehingga diputuskan untuk diberi obat herbal saja. Dan obat herbal itu berbentuk jamu godog yang rasanya luar biasa pahit dan aromanya ga enak, saya aja rasanya ga sanggup meminumnya :(

Besoknya kami membawa Micky ke dokter spesialis saraf di rumah sakit. Menurut dokter, Micky terkena gangguan saraf ke-7 atau Bell’s Palsy. Gejalanya seperti stroke, tapi bedanya pada penderita stroke saraf yang terkena adalah saraf di otak pusat yang mengontrol gerakan tubuh, sedangkan pada penderita Bell’s palsy yang terkena adalah saraf yang mengatur gerakan otot wajah. Saraf-nya terletak di belakang telinga.

Mengenai penyebabnya, menurut dokter karena ada virus yang terperangkap di dalam tubuh. Virus nya mungkin hanya berasal dari flu atau sejenisnya yang pada saat kondisi tubuh menurun, menyerang saraf. Kemudian dipicu oleh beberapa kondisi seperti terkena angin hanya pada sebelah wajah atau terkena AC yang terlalu dingin hanya di sebelah wajah.

Tapi sejauh ini pun belum ada penelitian yang benar-benar bisa memastikan penyebab penyakit ini.

Selain obat yang harus diminum, Micky harus menjalani fisioterapi seminggu dua kali. Oya, menurut dokter Micky beruntung karena segera mendapat perawatan. Karena kalau lebih dari 3 hari tidak mendapat perawatan bisa berakibat fatal.

You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Wajah Putriku Asimetris Terkena Bell’s Palsy”

  1. [...] Salah satu anugrah yang dulu lupa aku syukuri adalah indahnya senyuman anak-anakku yang luar biasa manis. Karena melihatnya setiap hari, aku jadi menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Sampai….. Keadaan berubah ketika Micky-ku tersayang terkena Bell’s Palsy. [...]

  2. [...] yang sudah saya tulis sebelumnya, anak saya, Micky, terkena gangguan saraf wajah atau Bell’s Palsy. Gangguan saraf ke tujuh [...]

  3. krisna says:

    ya bu makanya kita bersyukur punya wajah normal harus banyak senyum ketemu tetangga,kalau sdh kena bell pallsy wajah jadi abnormal subhanalloh

    • Santi Sulastri says:

      Iya mas Krisna, nikmat Alloh swt itu memang kadang tidak terasa dan kurang disyukuri. Aeringkali kita tidak merasa bahwa bisa tersenyum pun itu merupakan nikmat Alloh yang sangat besar.

  4. [...] pun dengan saya. Saya dulu tidak terlalu tertarik dengan pengobatan alternatif, termasuk ketika putri saya, Mikyal, terkena Bell’s Palsy. Saya fokus dengan pengobatan dari dokter spesialis syaraf dan fisioterapi. Namun, setelah 2 bulan [...]

Leave a Reply